Kamis, 07 Juni 2012

KUNCI KEBERHASILAN SINGAPURA MENJADI NEGARA MAJU




1.                  Pendahuluan
Negara Singapura terletak di ujung selatan Semenanjung Malaya, 137 km dari utara khatulistiwa. Negara ini terpisah dengan Malaysia di selat Johor utara, dan dari kepulauan Riau dengan Selat Singapura selatan. Letak geografis Singapura memang sangat strategis sehingga pernah menjadi pangkalan militer Inggris pada masa Perang Dunia II dan menjadi kota pelabuhan dagang.
Awalnya Singapura bernama Temasek yang dalam bahasa Jawa artinya adalah ‘Kota Laut’. Kemudian setelah lepas dari penjajahan Inggris, Temasek berganti nama menjadi Singapura yang berasal dari bahasa Melayu, arti Singapura adalah ‘Kota Singa’. Singapura juga dihuni oleh berbagai macam etnis, terdiri dari etnis China, Melayu, India, berbagai keturunan Asia, dan Kaukasoid yang berjumlah sekitar lima juta orang hingga saat ini.  
            Walaupun Singapura memiliki luas wilayah yang sangat sempit dan sumber daya alam yang tidak begitu melimpah, Singapura mampu menjadi salah satu negara maju di kawasan Asia Tenggara. Singapura berhasil mendapat gelar negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, dengan pertumbuhan PDB 17,9% pada pertengahan 2010 setelah berkurang -6,8% pada kuartal keempat tahun 2009. Sebagai negara maju, Singapura mendapatkan peringkat pertama dalam Indeks Kualitas Hidup, yang merupakan terbaik di Asia dan peringkat sebelas di dunia. Perkiraan PDB Singapura tahun 2012 mencapai $194.918 miliar, atau $40.336 perkapita.
 Gambar 1.1 Singapura sebagai salah satu negara maju di dunia
            Kemajuan Singapura ini sangatlah kontras apabila dibandingkan dengan Indonesia. Luas wilayah Singapura memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia, apalagi melihat kekayaan alamnya. Kekayaan alam Indonesia jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan Singapura yang kecil dan jumlah penduduknya sangat sedikit.            
            Indonesia merupakan negara besar di kawasan Asia Tenggara yang letak geografisnya sangat strategis sehingga pada masa lampau Indonesia banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang dari Eropa, China, dan Arab, hingga akhirnya Indonesia terjajah selama berabad-abad. Indonesia memiliki luas wilayah yang luas, baik darat maupun laut. Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah, seperti hasil laut, hasil hutan, pertambangan, pertanian, dan lain sebagainya. Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia yang artinya memiliki banyak tenaga untuk membangun Indonesia menjadi negara yang unggul daripada negara-negara lainnya.
 Namun Singapura ternyata lebih beruntung daripada Indonesia yang terlahir kaya namun tetap menjadi negara berkembang setelah sekian lama. Singapura ternyata lebih berhasil membangun negaranya menjadi sangat maju tanpa harus bergantung dengan kekayaan alam semata. Singapura juga memiliki sumber daya manusia yang sangat berkualitas sehingga jumlah penduduk yang sedikit itu mampu membangun negaranya menjadi lebih makmur mengalahkan Indonesia dengan jumlah penduduk besar namun masih lemah secara sumber daya manusia.
            Lalu apa saja faktor yang menyebabkan Singapura mampu menjadi negara yang unggul walaupun tidak didukung oleh sumber daya alam yang cukup? Tulisan ini akan mengulas hal-hal yang menjadi faktor yang mendukung kemajuan Singapura sehingga diharapkan hal-hal tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita bangsa Indonesia untuk menjadi lebih maju.  
  
2.            Pembahasan
Kemajuan Singapura tidak dapat dipisahkan oleh peran besar sosok Lee Kuan Yew. Ia telah menjadi Perdana Menteri sejak tahun 1959, sebelum bergabung dengan Malaysia.  Sebagai elite People Action Party (PAP), ia juga dikenal sebagai pemimpin yang otoriter dan mampu mempertahankan kekuasaan tujuh periode berturut-turut (1963, 1968, 1972. 1976, 1980, 1984, dan 1988)
Pada tahun 1961, Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia mengemukakan idenya untuk membentuk Malaysia menjadi sebuah federasi dari beberapa negara, yaitu Federation of Malaya, Singapore, Brunei, Kalimantan Utara (sekarang Sabah), dan Sarawak. Akhirnya, pada 16 September 1963 Malaysia berdiri, yang di dalamnya terdapat sebelas negara anggota Federation of Malaya, Singapura, Sabah, dan Sarawak.
Namun karena banyak perbedaan yang terjadi antara pemerintah Malaysia dengan pemerintah Singapura, akhirnya Singapura memutuskan berpisah dengan Malaysia pada 9 Agustus 1965, melalui proses referendum.   
Saat berpisah dengan Malaysia, Singapura merupakan negara kecil yang keadaan ekonominya masih setara dengan Chile, Argentina, dan Mexico. Tapi sekarang dalam perkembangannya,  pendapatan perkapita Singapura telah lima kali lebih banyak dari negara-negara tersebut.
 Gambar 2.1 Kondisi Singapura pada tahun 1965
Walau dengan keadaan negara yang serba kekurangan pada saat itu, Lee Kuan Yew tetap optimis mampu membangun negaranya. Menurut Lee Kuan Yew, kunci keberhasilan Singapura dalam menjadi negara maju adalah karena tekad dan kerja keras dari rakyatnya. Lee Kuan Yew memimpin negaranya seperti memimpin sebuah perusahaan, yang membutuhkan tekad, kerja keras, dan displin tinggi. Jadi tidak heran kalau ia menerapkan sistem pemerintahan yang otoriter demi mencapai tujuan-tujuan negaranya.
Strategi pembangunan yang digunakan oleh Lee Kuan Yew adalah bina bangsa (nation building)  dan orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Ia memilih proses bina bangsa karena Singapura merupakan negara kecil yang multietnis yang selalu rawan konflik. Dengan melakukan bina bangsa, ia menanamkan semangat nasionalisme yang tinggi terhadap rakyatnya. Jika rasa nasionalisme benar-benar tertanam secara kuat dalam tiap individu, niscaya tidak akan ada konflik-konflik karena perbedaan etnis, agama, ataupun bahasa, sehingga diharapkan rakyat akan tetap terintegrasi dan memunculkan kestabilan untuk mendukung pemerintah.
Kemudian yang kedua adalah orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Dengan orientasi pembangunan seperti ini maka pemerintahnya akan menerapkan kebijakan publik yang rasional dan selalu memikirkan efisiensi dan efektivitasnya.
Hal pertama yang dilakukan oleh pemerintah Singapura adalah menutup saluran demokrasi, karena demokrasi dianggap sebagai penghambat pembangunan. Apalagi dengan komposisi negara yang multietnis dan dikhawatirkan akan memunculkan konflik sosial. Karena itu pemerintah Singapura tersentralisasi demi mencapai efisiensi dan juga menetapkan aturan-aturan yang keras dan tegas. Misalnya aturan-aturan untuk menekan kelompok oposisi dan pembatasan hak berpendapat bagi rakyat. Hukuman akan selalu didapat apabila ada orang-orang yang menentang kebijakan pemerintah. Penerapan sistem otoritarian tersebut ternyata berhasil untuk mewujudkan ketertiban dalam negara Singapura, melaksanakan pasar ekonomi terbuka, dan pemerintahan yang bebas korupsi.
Mengapa rakyat Singapura tetap bertahan dengan otoriterisme yang diterapkan pemerintah Singapura saat itu? Apakah rakyat tidak melakukan perlawanan? Dapat kita lihat sebagai contoh, di Indonesia terjadi peristiwa Mei 1998 berupa demonstrasi besar-besaran yang akhirnya mampu menggulingkan pemerintahan Orde Baru yang otoriter dan memunculkan era reformasi.
Hal itu terjadi karena apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Singapura semata-mata demi memajukan dan menyejahterakan rakyat Singapura itu sendiri, walaupun harus dengan jalan antidemokrasi dan otoriter. Dengan pemerintahan yang otoriter tersebut pemerintah Singapura telah terbukti mampu membangun negaranya menjadi negara maju dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi rakyat Singapura untuk tidak mendukung pemerintahnya. Demokrasi dinilai layak dijalankan pada sebuah negara dengan kehidupan ekonomi dan politik yang stabil dan kondisi warga negaranya yang sudah berpendidikan.
Sadar akan pentingnya pengetahuan sebagai penentu kesuksesan masa depan, pendidikan kemudian menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah Singapura. Sistem pendidikan yang diterapkannya pun berorientasi pada minat dan bakat siswa sehingga mampu mengembangkan potensi para siswanya.
Keunikan pendidikan di Singapura yang maju adalah karena bahasa pengantarnya yang multibahasa (bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan Tamil) karena warga negaranya yang multietnis pula. Selain itu kurikulum pendidikan di Singapura juga sangat berorientasi pasa semangat wirausaha yang sangat mementingkan adanya inovasi, kreasi, juga kemampuan berkompetisi para siswanya. Silabus dan kurikulum yang ada selalu dievaluasi oleh Departemen Pendidikan. Mereka selalu menyisipkan hal-hal baru ke dalam silabusnya agar pendidikan dan pengetahuan siswanya di sana selalu up to date. Setelah lulus dan memasuki dunia kerja pemerintah memberikan banyak pelatihan kerja yang profesional hingga mampu mengembangkan keterampilan siswa-siswanya.
Walaupun Singapura merupakan negara maju yang rata-rata penduduknya sudah mampu, pemerintah tidak lantas menyamaratakan semua dengan menetapkan biaya pendidikan yang mahal, tapi tetap memberikan keringanan bagi warganya yang tidak mampu dengan memberikan beasiswa. Biaya sekolah di sana pada dasarnya cukup murah, hanya saja diperlukan sedikit tambahan biaya untuk sarana penunjangnya seperti buku, atau transportasi.
 Gambar 2.2 Kegiatan belajar mengajar di Singapura
Hal yang mendukung kemajuan pendidikan Singapura adalah kualitas tenaga pengajar dan perhatian pemerintahnya terhadap guru. Pemerintah memberikan gaji yang memadai bagi guru dan dosen sehingga minat warganya untuk menjadi guru sangat besar. Bahkan yang berminat menjadi guru di sana tidak hanya berasal dari dalam negeri sendiri tapi juga dari luar negeri.
Dari ulasan tadi, dapat dilihat bahwa terdapat dua pandangan yang telah berhasil dipatahkan oleh Lee Kuan Yew, yaitu semakin lama berkuasa, akan semakin korup, dan seorang diktator tidak akan mampu menyejahterakan rakyat. Selama ini image seorang diktator adalah berkuasa demi kepentingan pribadi dan kelompok semata, yang cenderung korup dan rakyat menderita karenanya. Namun Lee Kuan Yew berhasil membuktikan bahwa suatu negara juga bisa maju dan sejahtera walaupun tanpa demokrasi dan pemerintahan yang otoriter.
Setelah negaranya menjadi maju, Lee Kuan Yew sebagai pemimpin tidak lantas lupa diri. Ia tetap menjadi sosok yang sederhana, bersih, jujur dan bebas korupsi. Ia rela memotong gajinya sendiri dan menaikkan gaji para pejabat yang lain.
Sebenarnya gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew tidak jauh berbeda dengan Soeharto, yaitu pemimpin yang otoriter. Mereka berdua pun mampu membawa negaranya ke arah kemajuan pada masa itu, namun ada satu kekurangan yang luput dari perhatian Soeharto, yaitu melakukan regenerasi kepemimpinan. Setelah Lee Kuan Yew tidak lagi menjabat, ia menyerahkan kepemimpinan pada orang kepercayaannya, yaitu Goh Chok Tong. Sementara Lee Kuan Yew menjabat sebagai Menteri Senior sehingga secara tidak langsung ia masih mengendalikan negara melalui Goh Chok Tong.
Sebenarnya dibalik itu, ia juga telah menyiapkan masa depan Singapura dengan melakukan regenerasi kepemimpinan kepada anaknya, Lee Hsie Long yang dikenal sebagai ‘Big Lee’. Regenerasi yang dilakukan Lee Kuan Yew terhadap anaknya sendiri bukan semata-mata nepotisme belaka, namun karena kemampuan dan kerja keras anaknya sendiri. Tidak heran jika dunia mengakui bahwa Big Lee lebih hebat daripada ayahnya. Ia pun berhasil mempertahankan kemajuan yang telah diperoleh Singapura yang berjuang dari nol hingga seperti sekarang ini.   
Ada satu petikan dari Lee Kuan Yew Kuan Yew yang menurut saya sangat berkesan dan merupakan kunci dari keberhasilan Singapura mencapai kemajuan. Pada New York Times, Lee Kuan Yew pernah berkata,”If I had oil and gas I’d have a different people, with different motivations and expectations, it’s because we dont have oil and gas and they know that we don’t have, and they know that this progress comes from their efforts, so please do it and do it well.”

3.            Kesimpulan
Singapura pada masa awal berdirinya bukanlah sebuah negara maju. Ia hanya sebuah negara kecil yang pernah dijajah oleh Inggris dan dijadikan pusat perdagangan dan pangkalan militer. Singapura memiliki wilayah yang sangat sempit dan sumber daya alam yang tidak melimpah. Kemajuan Singapura tidak dapat dipisahkan oleh peran sosok Lee Kuan Yew sebagai seorang founding fathers Singapura. Ia menerapkan pemerintahan yang otoriter untuk menciptakan kestabilan sosial politik di negaranya yang terdiri dari berbagai etnis yang rawan konflik, demi kelangsungan pembangunan Singapura itu sendiri. Selain hal tersebut, Lee Kuan Yew juga sangat memperhatikan pendidikan warga negaranya. Kualitas pendidikan di Singapura memang sangat bermutu, terbukti dari keunggulan para lulusannya. Pemerintah Singapura juga sangat memperhatikan kesejahteraan guru sehingga mereka mempunyai tenaga pengajar yang berkualitas. Dibalik itu semua, kunci keberhasilan Singapura pada dasarnya adalah tekad dan kerja keras para rakyatnya di tengah segala keterbatasan yang ada, mereka mempunyai disiplin yang tinggi dan penuh semangat untuk mencapai kesejateraan dan memajukan negaranya.  



DAFTAR PUSTAKA

Buku
Information Division, Ministry of Communications and Information. 1985. Singapore Facts and Pictures 1985. Singapore: Ministry of Communications and Information

Internet
Anonim. (2012, Mei 12). Lee Kuan Yew. Dipetik Mei 17, 2012, dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas: http://id.wikipedia.org

Anonim. (2012, Mei 12). Singapura. Dipetik Mei 17, 2012, dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas: http://id.wikipedia.org

Ilham, M. (2012, Mei 17). Diktator Itu Bernama Lee Kuan Yew . Dipetik Mei 20, 2012, dari Kompasiana: http://www.kompasiana.com

Muharromah, D. O. (2010, Januari 14). Analisis Pemikiran Politik Lee Kuan Yew: Hubungan Strategis Antara Otoriterisme, Demokrasi, dan Kebijakan Pembangunan. Dipetik Mei 20, 2012, dari All About Domestic and International: http://go-one-go.blogspot.com

Seth Mydans, W. A. (2007, Maret 29). Lee Kuan Yew, Founder of Singapore, Changing with Times. Dipetik Mei 17, 2012, dari New York Times: http://nytimes.com

Subardo, R. (2012, April 17). Antara Soeharto, Mahathir, dan Lee Kuan Yew. Dipetik Mei 17, 2012, dari Kompasiana: http://kompasiana.com

Zakaria, F. (1994, April ). A Conversation With Lee Kuan Yew. Dipetik Mei 17, 2012, dari Foreign Affairs: http://www.foreignaffairs.com

4 komentar:

  1. semoga lndonesia segera melakukan perbaikan2 yg signifikan amiin ya Allah Tuhan penguasa semesta alam.

    BalasHapus
  2. Mantap gan! lumayan nambah pengetahuan :D
    mampir di blog ane juga ya gan :D rifqiakram.blogspot.com

    BalasHapus